Penggunaan AI di Industri Otomotif Masa Depan

Coretan Rakyat
Penggunaan AI di Industri Otomotif
Gambar Ilustrasi

Penggunaan AI di industri otomotif. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah bidang ilmu komputer yang menciptakan sistem atau mesin yang dapat meniru kemampuan manusia dalam berpikir, belajar, dan beradaptasi. AI memiliki berbagai aplikasi di berbagai bidang, termasuk industri otomotif, yang merupakan salah satu sektor ekonomi terbesar dan terpenting di dunia.

Industri otomotif menghadapi berbagai tantangan dan peluang di era digital, seperti persaingan global, permintaan konsumen yang berubah, regulasi lingkungan yang ketat, dan perkembangan teknologi yang cepat. AI dapat membantu industri otomotif dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut, serta menciptakan nilai tambah dan keunggulan kompetitif.

Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan gambaran tentang penggunaan AI di industri otomotif, dengan memberikan tiga contoh konkret yang menunjukkan manfaat dan potensi AI bagi perancangan, produksi, dan penggunaan kendaraan.

Visual Inspection untuk Komponen Mesin

Salah satu contoh penggunaan AI di industri otomotif adalah visual inspection untuk komponen mesin, seperti camshaft. Camshaft adalah komponen di dalam mesin mobil yang berfungsi mengatur bukaan valve. Karena fungsinya yang krusial, sebuah camshaft harus memiliki kualitas sangat tinggi. Kualitas sebuah camshaft ditentukan oleh keberadaan defect yang ukurannya berkisar di kisaran mikrometer.

Selama ini, inspeksi camshaft dilakukan secara manual oleh tenaga manusia, yakni teknisi yang terlatih. Tapi cara ini memiliki beberapa keterbatasan. Contohnya, proses pemeriksaan manual membutuhkan waktu sekitar 65 detik. Pemeriksaan manual juga menimbulkan kelelahan mata bagi para teknisi, sehingga mereka harus diganti setiap dua jam. Menciptakan talenta untuk inspeksi juga tak mudah. “Butuh waktu tiga bulan untuk melatih kemampuan seperti itu” kata Andhik Yudhi, IT General Manager pada PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dalam kapasitasnya sebagai pengamat teknologi di bidang otomotif.

Keterbatasan inilah yang coba diatasi dengan teknologi visual inspection berbasis AI. Konsep dasar solusi ini adalah adanya mesin berkamera yang dapat “melihat” defect di sebuah camshaft. Harapannya mesin ini akan memiliki ketelitian layaknya teknisi terlatih, sehingga dapat memutuskan apakah camshaft tersebut memenuhi syarat atau tidak.

Agar mesin dapat mendeteksi kualitas camshaft, tahapan proses dimulai dengan menciptakan sistem otomasi untuk visual capture. Setelah itu, perlu dikembangkan data model AI untuk “mengajarkan” mesin agar bisa membedakan camshaft yang lulus standar dan tidak. Setelah proses pembelajaran dianggap memadai, mesin itu mulai melakukan inspeksi dengan didampingi teknisi terlatih.

Hasilnya, teknologi visual inspection berbasis AI dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi pemeriksaan camshaft. Proses pemeriksaan yang tadinya membutuhkan waktu 65 detik, kini hanya membutuhkan 15 detik. Tingkat akurasi pemeriksaan juga meningkat dari 85% menjadi 95%. Selain itu, teknologi ini juga dapat mengurangi biaya tenaga kerja, pelatihan, dan perawatan.

Mobil Otonom atau Self-Driving

Mobil otonom atau self-driving adalah salah satu fitur AI yang paling banyak dibicarakan di mobil. Bukan lagi mimpi yang jauh, kemampuan self-driving muncul di kendaraan dunia nyata saat ini. Bayangkan sebuah mobil yang dapat menavigasi kota sendiri sambil beradaptasi dengan lalu lintas dan kondisi jalan raya secara real-time. Hal ini dapat membuat perjalanan menjadi lebih mudah dan berpotensi lebih aman dengan algoritma AI canggih yang dapat bereaksi lebih cepat dibandingkan pengemudi manusia.

Baca juga
10 Kiat Sukses dalam Menjalani Gaya Hidup Minimalis

Mobil otonom dapat dikategorikan ke dalam lima tingkat, dari nol hingga empat, berdasarkan tingkat keterlibatan manusia dalam mengemudi. Tingkat nol berarti tidak ada otomasi sama sekali, sedangkan tingkat empat berarti otomasi penuh, di mana manusia tidak perlu mengemudi sama sekali. Saat ini, mobil otonom yang ada di pasaran masih berada di tingkat dua atau tiga, di mana manusia masih harus mengawasi dan mengintervensi jika diperlukan.

Untuk mencapai tingkat empat, mobil otonom harus memiliki beberapa komponen AI yang saling terintegrasi, seperti:

Sensor

Bberfungsi untuk mengumpulkan data dari lingkungan sekitar, seperti jarak, kecepatan, arah, dan objek. Sensor yang digunakan antara lain kamera, radar, lidar, ultrasonik, dan GPS.

Perception

Berfungsi untuk mengolah data sensor menjadi informasi yang berguna, seperti mengenali rambu lalu lintas, pejalan kaki, kendaraan lain, dan rintangan. Perception menggunakan teknik AI seperti computer vision, deep learning, dan machine learning.

Planning

Berfungsi untuk merencanakan jalur dan aksi yang optimal untuk mencapai tujuan, seperti memilih jalur tercepat, menghindari tabrakan, dan mengikuti aturan lalu lintas. Planning menggunakan teknik AI seperti reinforcement learning, optimization, dan decision making.

Control

Berfungsi untuk mengendalikan gerakan mobil sesuai dengan rencana yang dibuat, seperti mengatur gas, rem, kopling, dan setir. Control menggunakan teknik AI seperti feedback control, fuzzy logic, dan neural network.

Mobil otonom memiliki banyak manfaat bagi manusia, seperti meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan efisiensi berkendara. Mobil otonom dapat mengurangi risiko kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan manusia, seperti mengantuk, mabuk, atau tidak fokus. Mobil otonom juga dapat mengurangi stres akibat kemacetan lalu lintas, dengan mengatur kecepatan dan jarak antar kendaraan secara optimal. Mobil otonom juga dapat menghemat bahan bakar dan emisi gas buang, dengan menghindari akselerasi dan pengereman yang tidak perlu.

Namun, mobil otonom juga memiliki tantangan dan risiko yang harus diatasi, seperti masalah teknis, etis, hukum, dan sosial. Masalah teknis meliputi keterbatasan sensor, kesalahan algoritma, keamanan data, dan serangan siber. Masalah etis meliputi dilema moral, tanggung jawab, dan kepercayaan. Masalah hukum meliputi regulasi, standar, dan asuransi. Masalah sosial meliputi dampak terhadap pekerjaan, privasi, dan budaya.

Personalisasi Pengalaman Berkendara

Personalisasi pengalaman berkendara adalah salah satu contoh penggunaan AI yang dapat meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pengemudi dan penumpang. Dengan AI, mobil dapat menyesuaikan fitur-fitur sesuai dengan preferensi dan kebutuhan pengemudi, seperti suhu, musik, pencahayaan, dan navigasi. AI juga dapat memantau kondisi pengemudi, seperti kesehatan, mood, dan konsentrasi, dan memberikan peringatan atau saran jika diperlukan.

Baca juga
8 Cara Seleksi Karyawan yang Paling Sering Diterapkan oleh HR Perusahaan

Salah satu teknologi AI yang digunakan untuk personalisasi pengalaman berkendara adalah pengenalan suara. Pengenalan suara menawarkan perpaduan unik antara kenyamanan dan keamanan, dengan memungkinkan pengemudi dan penumpang untuk mengontrol fitur-fitur mobil dengan menggunakan perintah suara. Pengenalan suara menggunakan teknik AI seperti natural language processing, speech recognition, dan speech synthesis, untuk memahami dan menjawab permintaan pengguna.

Contoh penggunaan pengenalan suara di mobil adalah Google Assistant, Siri, Alexa, Cortana, dan lainnya. Dengan pengenalan suara, pengguna dapat melakukan berbagai hal, seperti:

– **Mengatur suhu, musik, pencahayaan, dan kursi**. Pengguna dapat mengatakan “Hey Google, setel suhu 22 derajat”, “Hey Siri, putar lagu favorit saya”, “Hey Alexa, matikan lampu”, atau “Hey Cortana, atur kursi pengemudi ke posisi dua”.

– **Mengakses informasi dan hiburan**. Pengguna dapat mengatakan “Hey Google, berapa jarak ke rumah?”, “Hey Siri, siapa presiden Indonesia sekarang?”, “Hey Alexa, ceritakan lelucon terbaru”, atau “Hey Cortana, mainkan trivia”.

– **Menggunakan navigasi dan komunikasi**. Pengguna dapat mengatakan “Hey Google, arahkan saya ke restoran terdekat”, “Hey Siri, panggil ibu saya”, “Hey Alexa, kirim pesan ke teman saya”, atau “Hey Cortana, buka email”.

Pengenalan suara dapat membuat pengalaman berkendara menjadi lebih menyenangkan, mudah, dan interaktif, dengan mengurangi kebutuhan untuk menyentuh layar atau tombol. Pengenalan suara juga dapat meningkatkan keselamatan berkendara, dengan mengurangi gangguan dan distraksi yang dapat mengganggu konsentrasi pengemudi.

Penutup

AI adalah teknologi yang memiliki banyak potensi dan manfaat bagi industri otomotif, baik dalam pengembangan, produksi, maupun operasi mobil. AI dapat membantu meningkatkan kualitas, efisiensi, keselamatan, dan kenyamanan berkendara, dengan memberikan solusi-solusi inovatif dan cerdas.

Namun, AI juga memiliki tantangan dan risiko yang harus diwaspadai, seperti masalah teknis, etis, hukum, dan sosial. AI juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pekerjaan, privasi, dan budaya manusia, jika tidak digunakan dengan bijak, bertanggung jawab, dan beretika.

Oleh karena itu, pengembangan dan penggunaan AI di industri otomotif harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek teknis, ekonomis, sosial, dan lingkungan. Industri otomotif harus bekerja sama dengan pemerintah, akademisi, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, untuk menciptakan standar, regulasi, dan kebijakan yang mendukung perkembangan AI yang sehat dan berkelanjutan.

AI adalah teknologi yang mengubah dunia, termasuk industri otomotif. AI adalah teman sekaligus tantangan bagi industri otomotif. AI adalah peluang sekaligus ancaman bagi industri otomotif. AI adalah masa depan yang menarik sekaligus menantang bagi industri otomotif.

 

*Ikuti berita terbaru Coretan Rakyat di Google News klik disini dan jangan lupa di follow.